MAH.com – Saat ramai-ramainya penghobi ayam laga beralih dari Bangkok ke Burma, Pakhoi, Mangon dan lainnya tidak membuat Arimong Farm Tulung Agung ikut-ikutan meninggalkan trah bahkan hingga sekarang tetap mempertahankan Bangkok klasik sebagai pejantan untuk mengembang biakan, ternyata prestasinya tidak pernah pudar di kalangan menghadapi trah trah terbaru.

Bahkan saat turun ke gelanggang sering disebut Raja Sengkrek (selalu kalah gandeng dengan lawan) bahkan untuk perbandingan tidak hanya 9 : 10, 8 : 10 bahkan sering 7 : 10, tetapi sering kali menang meskipun kadang di awal sempat ketinggalan tetapi akhirnya dapat menyelesaikan pertarungan dengan hasil yang memuaskan.

Belum punya nama siap laga perdana

Menurut Pamuji (35 tahun) menejer kandang Arimong Farm, keberaniannya untuk kalah gandeng bukan tanpa alasan, mengingat ayam ayam hasil ternakanya justru suka dengan lawan yang lebih tinggi karena pukulanya saat menarik selalu telak dan berdampak sehingga sering membuat lawan tidak berdaya.

Salah satu contoh ayam muda (NN) bertaji hitam yang baru menang sekali memang memiliki pukulan antik dari depan dan samping, meskipun saat mukul kelihatan pukulan sayap (suara pukulanya terdengar brak) tetapi selalu berefek sehingga lawanya sering kedodoran dan tidak berdaya menghadapinya.

NN punya pukulan sayap tapi berefek

Arimong sendiri saat turun gelanggang jarang memakai nama ayam, karena prestasi dan bertahan di kandang tidak akan lama. “Biasanya menang sekali dua kali sudah ada yang membeli, ujar Pamuji pria yang tinggal di Desa Ringin Pitu, Kecamatan Kedung Waru, Kabupaten Tulung Agung – Jawa Timur.

Nanang (kiri) bersama Teguh CP saat berkunjung ke Arimong Farm

Untuk menyiapkan ayam memang relatif lebih lama, karena rata-rata menyiapkan dari hasil ternak sendiri sehingga melatih dari kondisi 0, sambil seleksi semuanya disiapkan secara bertahap. “Ya kita latih sesuai kondisi ayam itu sendiri, jadi kami mengikuti kemauan ayam yang penting umbaran cukup,” selah Nanang yang juga salah satu tim Arimang Farm.

Salah satu hasil ternak yang mulai disiapkan

Lebih lanjut Pamuji mengatakan, untuk latihan dan persiapan ayam ke laga secara rutin tiap hari mandi jemur lalu di lepas di kandang umbaran dan kadang juga dilakukan fisik secara teratur misal kliter (lari keliling) dan sparing baik dengan lawan yang sama sama bagus atau dengan ayam sparing (baca : untul). “Dan yang tidak kalah penting adalah jamu untuk menjaga stamina agar ayam selalu sehat dan kuat, kalau urusan jamu kami bikin sendiri dengan bahan rempah rempah,” tambah pria yang sudah suka ayam laga sejak duduk di bangku SD.

Anakan yang baru umur 6 bulaann

Apa saja bahanya Pamuji awalnya enggan menyampaikan tetapi akhirnya bersedia membuka ramuanya, bahan yang digunakan yaitu kencur, cabe puyang, jahe, tepung beras dan telur. “Diberikan seminggu 2-3 kali, khususnya 2 minggu sebelum turun arena, dan terbukti tenaganya saat tarung tidak pernah habis,” ungkap Pamuji.

Tetap ada darah Bangkok klasik di turunanya

Selama 1,5 tahun Arimong Farm jarang menggunakan ternakan dari luar, cukup dari hasil breeding sendiri. Memang untuk meningkatkan kualitas anak anak ayam pejantan tetap menggunakan Bangkok klasik, tetapi indukanya menggunakan trah-trah yang lagi naik daun seperti Pakhoi, Mangon dan lainya. “Sehingga permainanya tetap cantik seperti Bangkok tetapi memiliki pukulan yang lebih dahsyat,” papar Pamuji saat ditemui di kandangnya. (teo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here